Jumat, 29 Maret 2013

fenomena kebiasaan masyarakat bali


Fenomena masyarakat Indonesia
Kali ini saya akan menulis Kebiasaan apa saja yang ada didalam masyarakat bali

Di negri kita tercinta ini Indonesia memiliki beragam suku,agama,ras dan berbagai adat isitiadat dengan begitu banyak kebiasaan masyarakat setempat yang pastinya berbeda-beda, disini saya akan menceritakan tentang keunikan budaya bangsa di dalam tanah air kita, sehingga perbedaan – perbedaan yang beragam ini membuat warna indah dalam satu kesatuan sehingga dikenal dengan Bhineka Tunggal Ika.
Disini saya akan menceritakan bebrapa kebiasaan unik masyarakat bali yang berhubungan dengan agama hindu dan adat istiadat yang ada didalamnya.

Masyarakat bali yang pada umumnya ramah tamah ini banyak keunikan tersendiri dengan pola kehidupan yang bhineka atau plurarisme dan tidak terlalu banyak aturan ataupun fanatic terhadap suatu paham, memiliki adat istiadat yang selalu mereka pegang teguh dalam kehidupan sehari – hari sehingga mereka bisa hidup dengan kedamaian. Siapa tahu bagi anda yang kebetulan pertama kali dating kesana, entah dalam rangka untuk liburan, tugas kantor atau study tour ataupun berbisnis ada perlunya nih untuk mengetahui beberapa hal tentang kebiasaan masyarakat setempatnya selain tempat – tempat wisatanya saja.

Beberapa kebiasaan tersebut tersebut antara lain :
·         Mesaiban – sebuah ritual kecil, yang dilakukan setiap pagi hari sehabis ibu-ibu selesai memasak di dapur, kebiasaan ritual ini sebelum makan, kebiasaan ini bisa sebagai wujud terima kasih atas apa yang telah dikaruniakan-Nya, dan juga sebagai sajian ke bhuta kala agar somya (tidak menggangu)
·         Ngejot  – kebiasaan bagi masyarakat untuk memberi dan diberi (berupa makanan). Bertujuan untuk menguatkan ikatan sosial di masyarakat, baik saudara maupun tetangga. Dilakukan saat salah satu keluarga ataupun masyarakat ada kegiatan upacara agama, kebiasaan ini juga dilakukan antara penduduk Bali Hindu dan non Hindu.
·         Kasta – Catur Kasta, penggolongan masyarakat di Bali berdasarkan ras ataupun keturununan, digolongkan dari posisi yang paling atas; Brahmana, ksatria, Weisya dan Sudra. Yang mendominasi adalah Sudra (masyarakat biasa). Kelompok Sudra (mendominasi hampir 90%), di dalam berkomunikasidengan Brahmana, Ksatria dan Weisya, menggunakan tata bahasa Bali yang lebih halus. Begitu sebaliknya mereka akan menaggapi dengan halus pula.
·         Kata “Bli” di Bali kata ini cukup populer, kata yang digunakan memanggil orang lain yang lebih tua dari kita atau paling tidak seumur (bisa diartikan “Mas”) dengan tujuan penuh keakraban antar sesama. Namun jika anda menggunakan kata ini perhatikan Kasta mereka apakah dari kasta yang lebih tinggi, seperti namanya ada embel-embel seperti; Ida, I Gusti, Ida Bagus, Cokorde dan Anak Agung. Walaupun mereka tidak tersinggung dengan Kata ‘Bli” yang kita sebutkan tapi itikad kita menghargai orang lain, alangkah baiknya tidak menggunakan sebutan tersebut.
·         Kebiasaan sopan pada sesama apalai kepada orang yang lebih tua, dan pada kasta yang lebih tinggi. Menyangkut etika, sangat tidak sopan menunjukkan sesuatu dengan tangan kiri, lawan bicara bisa jadi tersinggung, apalagi menunjuk dengan kaki, lawan bicara bisa jadi emosi. Kalau toh hal itu harus dilakukan, bilang maaf terlebih dahulu, atau orang bali biasa bilang kata “tabik”.
·         Karma Phala – masyarakat hindu di Bali sangat meyakini sekali hukum karma phala ini yang. Karma Phala ini berarti  kebaikan yang kita lakukan kebaikan pula yang akan kita dapatkan, begitu sebaliknya. Sehingga orang-orang untuk melakukan tindakan yang tidak baik harus berpikir tentang pahala yang akan mereka peroleh nantinya, diyakini pahalanya bisa dinikmati/ berimbas di kehidupan sekarang, di akhirat  dan kehidupan berikutnya bahkan bisa sampai ke anak-cucu. Begitu besarnya hukum sebab akibat ini, sehingga di harapkan semua masyarakat bisa berbuat kebaikan.
Mungkin itu hanya beberapa kebiasaan saja yang sudah banyak terlihat sebenarnya masih banyak lagi kebiasan – kebiasaan lain yang bisa kita saksikan ataupun bisa kita pahami seberapa besarnya mereka pegang teguh untuk di turun temurunkan kepada cucu-cucunya.
Sumber :
http://wisata.balitoursclub.com/kebiasaan-masyarakat-bali

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar